Buku Terbaru
Home > Novel > Non Fiction > Jurnal Perempuan Edisi 41
Jurnal Perempuan Edisi 41
| Nomor Produk | 4097 |
| Penerbit | yayasan jurnal perempuan |
| Pengarang | Yayasan Jurnal Perempuan |
| Harga |
Rp. 17.190,00 |
| Tanggal Publish | 08 Sep 2008 |
Ringkasan Buku Jurnal Perempuan Edisi 41
Jurnal Perempuan Edisi 41 Judul S E K SU A L I T A S Tahun Terbit Juni 2005 Tebal 156 halaman Harga Satuan Rp. 19.100 Harga Berlangganan 1 tahun 6 edisiRp. 91.800
Menuju Otonomi Seksual Perempuan
Seorang buruh perempuan didakwa membunuh mandornya karena membela diri saat diperkosa... Polisi menolak mengusut kasus perkosaan atas seorang perempuan pekerja seks komersial karena menganggap itu sudah pekerjaannya, dan seterusnya... dan seterusnya... Dari berbagai publikasi di media massa, kita dapat melihat bahwa dalam sejarah, seksualitas nampaknya menjadi isu yang perenial (abadi). Dan masih banyaknya kasus-kasus kekerasaan seksual dalam masyarakat terhadap perempuan menunjukkan bahwa isu-isu kekuasaan dan dominasi didentifikasikan bukan saja dalam kehidupan publik namun juga dalam relasi privat yang paling intim. Bahkan dalam banyak kasus misalnya pandangan bahwa alasan laki-laki memperkosa karena tidak tahan melihat kemolekan tubuh seorang perempuan, oleh masyarakat ber-mind set patriarkhis, hal tersebut ditolerir.
Persoalan seksualitas terbukti memang bukan hanya masalah tubuh perempuan dan laki-laki an sich, namun juga berkaitan dengan relasi kekuasaan, kepentingan kapitalisme, dan kompleksitas lainnya. Frederick Engels dalam bukunya berjudul The Origin of the Family, Private Property and State, mencoba merumuskan pensubordinasian perempuan dalam perannya dimulai dengan perkembangan kepemilikan pribadi, saat ketika terjadi kekalahan sejarah perempuan di dunia. Sejak lahir ia telah disosialisasikan sebagai milik laki-laki, sebelum menikah ia bergantung dan menjadi milik sang ayah, sedangkan ketika menikah ia menjadi milik suami.
Laki-laki selalu ditempatkan sebagai pater familias dan dalam sejarah master-slave ini menurutnya hampir mustahil untuk membebaskan perempuan dari penindasan. Karena kepemilikan (private property) ini berkaitan erat dengan dominasi ekonomi dan politik oleh laki-laki termasuk kontrol mereka atas seksualitas perempuan. Kontrol ini dinilai penting karena reproduksi dan seksualitas sudah menjadi bagian dari basis material masyarakat. Menurut kaum feminis sosialis, dalam kehidupan seksual banyak perempuan akhirnya hanya merasa menjadi instrumen kepuasan seksual laki-laki, sementara cinta lalu menjadi ilusi dari ideologi yang lebih dominan.
Satu-satunya cara untuk melawan semua definisi kaum laki-laki atas seksualitas perempuan adalah dengan berbicara tentang seksualitasnya. Beberapa feminis menawarkan konsep otonomi seksual dimana perempuan jangan dibiarkan bergantung pada laki-laki, apalagi tertekan oleh struktur dominan yang menghasilkan pandangan bahwa manusia semestinya menjadi mahluk yang hetero, yang akibatnya lalu bermunculan tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum homoseksual, atau gagasan bahwa perempuan harus selalu bersedia melayani kebutuhan seksual laki-laki, kapanpun dan dimanapun juga, tanpa merasa perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikisnya.
Kini wacana sekualitas perempuan harus lebih diper-kaya, dari banyaknya kasus dan desas-desus, ternyata jarang sekali wacana yang menggali seksualitas perempuan secara komprehensif dan konseptual. Yang berkembang justru mitos yang akut, misalnya para remaja berpikir bahwa berciuman bisa membuat mereka hamil, atau yang percaya bahwa besarnya penis lebih memuaskan perempuan, bahkan pendapat gurah vagina dapat membuat laki-laki lebih bergairah.
Dalam kesemrawutan ideologi itu, mewujudkan seksual yang otonom memang menjadi tantangan yang terberat. Sama beratnya tentangan manakala seorang perempuan bicara tentang tubuh dan seksualitasnya. Di tanah air, beberapa sastrawan perempuan seperti Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami dihujat sebagai aliran sastra amoral karena bicara soal seksualitas dan tubuh perempuan. Tapi tidak bagi para pejuang hak-hak perempuan karena mereka ikut serta mendobrak dunia sastra Indonesia dalam rangka mem-bongkar pemikiran dan struktur patriarkis.
Isu seksualias tidaklah sama dengan reproduksi, karenanya janganlah ia direduksi hanya ke persoalan rahim semata. Tubuh dan seksualitas justru adalah ajang pertempuran bagi perempuan untuk memperjuangkan kebebasannya, ia juga dapat berfungsi sebagai media untuk keluar dari ketertindasannya. (AV)
Daftar Isi Jurnal Perempuan 41
Prolog
Menuju Otonomi Seksual Perempuan Topik Empu
Mengurai Persoalan Kehidupan Seksual dan Reproduksi Perempuan Made Oka Negara
Tubuh Perempuan dalam Goyang Dangdut Rachmah Ida
Abjek dan Monstrous Feminine: Kisah Rahim, Liur dan Pembalut Aquarini Priyatna Prabasmoro
Tidak hanya Gender, Seks juga Konstruksi Sosial... (Kritik terhadap Heteroseksualitas) Moh. Yasir Alimi
Seksualitas Lesbian Arians Athena
Citra Seksualitas Perempuan Jawa (Representasi dari Candi, Mitologi dan Wayang) BJD. Gayatri
Perempuan Luar Negeri
Kekuasaan Negara, Seksualitas dan Perubahan Kebijakan di Amerika Latin Nur Iman Subono
Kliping Tubuh Perempuan di Wilayah Konflik
Pendidikan Seks, Salah Satu cara Menyelamatkan Seksualitas Perempuan Kata Makna Sexual Identity (Identitas Seksual)
Profil Djenar Maesa Ayu. “Menganggap Seks sebagai Tabu adalah Kejahatan Kemanusiaan” Mariana Amiruddin
Perempuan Daerah Perempuan Papua: Menolak Hanya Sebagai Pelengkap (Kritik terhadap Laki-Laki Malanesia Papua) Jimmy O Erelak
Rak Buku Menapak Perjuangan Perempuan Dalam Politik
Buku: Politik Perempuan Bukan Gerhana, Esai-Esai Pilihan Kolom Budaya Cerpen : T u n g s Oleh:Hudan Hidayat Puisi : Wajah Waginaku. Kamilia Manaf
Menuju Otonomi Seksual Perempuan Topik Empu
Mengurai Persoalan Kehidupan Seksual dan Reproduksi Perempuan Made Oka Negara
Tubuh Perempuan dalam Goyang Dangdut Rachmah Ida
Abjek dan Monstrous Feminine: Kisah Rahim, Liur dan Pembalut Aquarini Priyatna Prabasmoro
Tidak hanya Gender, Seks juga Konstruksi Sosial... (Kritik terhadap Heteroseksualitas) Moh. Yasir Alimi
Seksualitas Lesbian Arians Athena
Citra Seksualitas Perempuan Jawa (Representasi dari Candi, Mitologi dan Wayang) BJD. Gayatri
Perempuan Luar Negeri
Kekuasaan Negara, Seksualitas dan Perubahan Kebijakan di Amerika Latin Nur Iman Subono
Kliping Tubuh Perempuan di Wilayah Konflik
Pendidikan Seks, Salah Satu cara Menyelamatkan Seksualitas Perempuan Kata Makna Sexual Identity (Identitas Seksual)
Profil Djenar Maesa Ayu. “Menganggap Seks sebagai Tabu adalah Kejahatan Kemanusiaan” Mariana Amiruddin
Perempuan Daerah Perempuan Papua: Menolak Hanya Sebagai Pelengkap (Kritik terhadap Laki-Laki Malanesia Papua) Jimmy O Erelak
Rak Buku Menapak Perjuangan Perempuan Dalam Politik
Buku: Politik Perempuan Bukan Gerhana, Esai-Esai Pilihan Kolom Budaya Cerpen : T u n g s Oleh:Hudan Hidayat Puisi : Wajah Waginaku. Kamilia Manaf

